Langsung ke konten utama

Tarian Hujan


                    Oleh : yang terlupakan

‘Hujan. Sepertinya tak ada waktu yang tepat untukmu datang. Saat ini apakah engkau menertawaiku? Atau malah mendukungku? Dia ada disebelahku. Hatiku canggung, mulutku tak bisa bicara. Bantulah aku. Kau membuat kami semakin dekat. Apa yang harusnya aku lakukan?’

Aku diam, duduk di lantai memeluk kakiku. Memandang keluar, yang terhalang oleh kaca tebal ditemani dengan rintikan hujan yang semakin lama semakin tajam. Hari menjadi terasa dingin di sore hari. Tampak embun-embun kecil mengelilingi ku di kaca. Ku mengingatnya. Ku mengingat kejadian semalam.

Wajahnya begitu lugu. Di hari libur seperti ini, ku tak bisa melihat wajahnya. Mengapa aku tak berbicara semalam kepadanya? Aku dibuatnya ragu-ragu. Aku mati kutu dibuat oleh suasana semalam. Andaikata ia tahu bahwa aku merasa getaran felling, apakah ia juga memiliki perasaan yang sama? Oh..baiklah, ini sudah terlalu berlebihan. Aku ngak mungkin mencarinya dan menanyakan hal itu. Aku lebih baik melupakan dirinya.
                         ***
 Sepanjang minggu ini, hujan tak pernah terlambat tuk datang. Aku membencinya ketika datang di pagi hari hingga membuatku melepas sepatuku dan memakai jacket yang memberatkan bawaanku lagi. Seperti hari ini. Jipratan mobil membuat rokku basah, meski hanya sedikit. Tapi itu membuatku kesal. Aku benci hujan.

Aku berlari mempercepat, berteduh di atap teras sekolah. Aku berdiri, dan menyikirkan jaket yang kekenakan. Merapikan sedikit bajuku yang kusut dan masuk ke dalam kelas ingin memakai sepatuku yang ada di tas. Aku terdiam kembali. Dia berjalan dihadapanku. Hatiku kembali bergetar, semakin dekat semakin parah dan bertambah kuat. Aku tak sanggup. Kakiku tak dapat ku gerakkan. “Apa sudah keterlaluan aku mengaguminya? ” Ku bertanya dalam hati. Ia tersenyum padaku, aku tak dapat membalasnya. Aku hanya mengangguk, menundukkan kepalaku lalu lari ke dalam kelas.

“Ok, ini sudah keterlaluan” Kataku pelan dibarengi dengan tarikan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ku memakai sepatu secepatnya di bangku ku. Bel telah berbunyi keras menandakan pembelajaran sudah dimulai.

Wajahnya begitu sedap di pandang. Manis. Tapi, sebaiknya ku menghentikan perasaan ini. Tak membuatnya bertambah subur. “Tolong dipahami pikiran!” Kataku dalam hati, menandaskannya pada perasaanku. Semoga ini tak menjadi-jadi.

“Hujan lagi, Hujan lagi!” Kataku kesal yang melihat hari mendung kembali, dan gerimis kembali datang. Ku bejalan menginjak keras tanah dengan kesalnya, hingga rok sekolahku terciprat dampaknya. ”Aduh! Hujan memang menyebalkan!” Kataku. Aku sangat tak meyukainya. Ku berjalan paksa dan membuka payungku setelah keluar dari gerbang. Gerimis yang sedikit tadi, kembali bertambah deras dengan hembusan angin meramaikannya. Ku menunggu bus tuk pulang tanpa memakai jaketku. Sama sekali tak takut basah. Sikap pasrah saja mencoba tak mengomel sendiri.

Sesampai di rumah, hujan telah redah, tapi membuat sepanjang perjalanan penuh lumpur. Ku memasuki gang, dengan berjalan hati-hati tak ingin mengotori bajuku lagi. sungguh malu dilihatin orang-orang saat di Bus tadi. Ku mendengar suara dari belakang, mencoba mengenali. Ternyata adalah suara motor. Ia berjalan mengendarai dengan begitu kencang. Ku berbalik dan menghiraukannya. Merasa bahwa ia memerhatikannku dan tak mungkin menabrakku dengan sengaja.

“Aw” Teriakku keras, begitu keras hingga membuatnya berhenti. Ku berjalan sambil melihat seluruh bajuku yang terkena oleh cipratan becet di sebelahku. Ku menghampirinya dengan sangat marah. ”Kalau jalan lihat-lihat dong! Ni kan bajuku jadi kotor semua!” Kataku membentaknya keras sambil membersihkan bajuku yang terkena noda, mencoba menghilangkannya.

“Sory Ris” Katanya.
 “Darimana ia tahu namaku?” Pikirku sejenak. “Kalau itu tebakan, tebakannya begitu tepat” Pikirku lagi
 “Kamu kok tahu namaku?” Ku menatap matanya, nadaku kembali sopan,
 memerhatikannya tajam dan mencari tahu siapa gerangan dirinya.
 Dibukanya perlahan helm yang menutupi wajahnya. Ku tetap binggung tak mengenalinya.

“Hai” Ku masih memerhatikannya
 “Sory, aku tadi terburu-buru. Aku ngak sengaja.” Katanya
 “Kita pernah ketemu?” Ku bertanya padanya yang merasa ia sok kenal terhadapku.
 “Kamu Teris kan, anak IPA-4?” Katanya
 “Kamu kok tahu? Aku ngak kenal kamu!” Katanya.
 “Bukannya kita pernah kenalan di lomba menulis bulan lalu?” Katanya.
 Ku diam menghayati. Mencoba mengingat-ingat lagi.
 “Oh iya. Maaf! Kamu yang waktu itu jadi panitia kan?” Kataku sambil menunjuk dirinya

“Betul”
 “Tapi, aku tak ingat namamu!” Kataku. Aku memang benar-benar lupa namanya.
 “Putra, Ingat?” Katanya dengan malunya.
 “Oh..” Kataku yang meski telah di sebutkan, tak juga merasa pernah mengenalnya.

“Sory banget ya!” Katanya lagi. Nadanya terasa sangat menyesalinya.
 “Gak apa apa!” Kataku, mencoba bersikap manis.
 “Aku gak bisa lama-lama. Lain kali kita sambung. Rumah kamu yang pagar Hijau itu kan?” Katanya menunjuk dua rumah dari tempat kami berdiri.
 “Iya benar”
 “Nanti, kalau ada waktu aku singgah ya!” Katanya lalu memakai helmnya kembali dan pergi.

“Apa yang terjadi padanya? Aku binggung, mengapa ia tahu rumahku itu?
 Masa ia begitu kenal denganku. Ah, mungkin dia pernah melihatku masuk ke dalam rumah. Mungkin dia tetanggaku yang berada di ujung gang. Memang aku sama sekali tak memiliki sikap sosialisasi yang baik. “ Kataku yang memikirkannya, ku berbicara sendiri seperti orang gila di dalam kamar.

“Hari minggu” Teriakku yang baru bangun pagi. Ku berencana tuk pergi menonton bioskop bersama sahabatku. Ku membuka jendela kamar, memastikan cuaca apakah mendukung. ”Tampak cerah” Kataku mengangguk.

Ku meloncat ke bawah menghampiri meja makan. Lalu sarapan. Ku dengan rajin dan bersemangat membersihkan rumah. Hingga kedua orang tuaku bingung dan perkataannya seperti memarahi atas sikapku yang berubah-ubah. Ku hanya membalasnya dengan tersenyum, membuat mereka bertambah bingung.
Sungguh melelahkan membereskan rumah. Baju seluruhnya basah, keringat di wajah berserakan dimana-mana. “Capek” Kataku menyenderkan tubuh di sofa.

“Jam 12″ Tanpa sengaja, ternyata jam telah mengharuskannku bersiap-siap. Ku langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru. Tak dapat dipastikan lagi kebersihannya. Yang terpenting hanyalah tak terlambat akan janji yang diputuskan.

“Hujan!” Kataku teriak. Nadaku seperti menangis. Cyntia menelponku, lalu berkata, “Hujan Ris! Gimana? Hujannya deras amat!” Ku hanya diam.
 “Lain kali aja ya?” Katanya
 “Ya sudah!” Kataku dengan nada malas dan kesal. Memang sangat tidak memungkinkan tuk pergi. Angin begitu kencang, hingga pohon bergoyang kesana kemari mengikuti goyangan hujan. Begitu kecewa. Ku mengganti baju dengan pakaianku dengan pakaian rumah. Menggantung kembali tuk esok.

“Harusnya kan ini musim panas?” Protesku lagi.

Ku mengambil posisi duduk. Terdapat kaca besar dijadikan jendela. Berwarna hitam, membuat orang tak dapat melihatku, tetapi aku dengan leluasa dapat memerhatikan sekitarnya. Ku memeluk kedua kaki yang ditekuk. Tempat dimana ku biasa merenung dan mencari inspirasi. Mengapa harus hujan? Jadinya aku tak dapat mononton bioskop. Perasaanku masih begitu kesal. ”Aku mengingatnya!” Kata yang membuatku otakku sadar. Aku mengingat dirinya lagi. Aku mengingatmu Rendy.

“Ris, ada yang datang!” Teriak mama dari pintu kamarku yang tertutup. Ku terkejut dan spontan berlari membuka pintu. Timbul tanda tanya di benakku, siapa yang datang di hujan lebat seperti ini.
 “Siapa Ma?”
 “Temanmu!” Jawab Mama
 “Siapa ya? Apa mungkin Rendy? Semoga!” Kataku berharap
 “Hai!”
 “Putra!” Kataku dengan nada terbata-bata. Tampaknya ku kaget, tapi seperti kecewa.
 “Hai” Kataku mendekati mencoba bersikap wajar dan menyambut kedatangannya. Ku perlahan-lahan mendekatinya dan duduk menemaninya di sofa tengah.
 “Ehmm, Ada apa Put?” Kataku yang berhati-hati takut membuatnya tersinggung.
 “Aku hanya mau ngajak kamu, apa kamu mau ikut lomba menulis lagi?”
 Katanya membuka topik

“Oh ya? Dimana? Kapan?” Ini merupakan berita baik. Ku tersenyum begitu senangnya. Ia menjelaskan perinciannya dengan kata-kata dan suara yang kadang-kadang terdengar lancar dan terkadang sebaliknya. Ia begitu banyak memberiku tips dan trik dalam menulis. Semoga karyaku kali ini diperhitungkan menjadi calon pemenang. Harapanku saat ini. Semoga tak sia-sia. Sejak itu, ia sering datang ke rumah. Cukup nyaman bagiku. Kata-katanya begitu halus. Ku diperlakukannya seperti istimewa.

Akhir-akhir ini ku mencoba mencari inspirasi. Menambah kehangatan dan perasaan di dalam sentuhan artikelku. Cukup menegangkan, harapanku cukup besar kali ini. Semoga ini pertanda baik. Ku memerhatikan sekelilingku. Ku sengaja menghentikan Bus agak jauh dari sekolah, agar ku dapat mengamati seluruh aktivitas rutin yang dilakukan orang banyak. Berjalan pelan, langkah demi langkah. Ku bertanya selalu setiap ku melihat hal-hal aneh atau baru, baik yang dikenakan ataupun dari sikap dan cara berpikir yang populer saat ini.
Sekolah sudah terlihat jelas. Tak ada satupun yang membantuku dalam berimajinasi. Apa lagi yang dapat dimuat. Di saat hendak memasuki kelas, ku melihat dirinya lagi. Ku langsung berpaling dan merasa bahwa ia memerhatikanku dari tadi. Tapi ku tak terlalu menanggapi pikiran yang tidak jelas itu. ”Aku tidak menyukainya..Aku tidak menyukainya..Aku tidak menyukainya..” Ku selalu berkata seperti itu pada pikiranku. Menanamkannya jauh-jauh dimuka agar tak menyesal apalagi patah hati. Ku berpikir sepanjang hari, apa yang akan ku tulis. Tetap saja ku berkhayal tentangnya lagi.

“Ya, dia saja!” Kataku dengan nada teriak, dengan tangan menunjuk ke atas sambil memegang pensil. Seluruh siswa melihat seram kearahnya. Wajah mereka binggung dan tampak kaget mendengar teriakan ku.
 “Apanya yang ‘Ya’, Teris!” Sentak bu guru. Tanpa ku sadari aku berteriak di tengah pelajaran berlangsung.
 “Ngak ada bu!”
 “Kamu berkhayal ya? Kerjakan soal no 5!” Kata Bu Siska, guru Matematika yang sekarang berdiri di dekatku. Teman-teman hanya menertawakanku. Wajahku memerah, begitu malu. Aku hanya tertunduk malu ketika berjalan ke depan. “Mengapa ku berkhayal di saat pelajaran Matematika?”
                         ***
 Di saat perpisahan. Tak ada yang berubah dari diriku. Seluruhnya berpakaian indah dan tampak ceria. Tetapi, suasana mulai terasa redup ketika acara hampir selesai. Sumbangan-sumbangan lagu mereka hampir seluruhnya dinyanyikan. Akupun tampak terharu. Aku hanya diam, menatapi mereka, memerhatikan dengan cermat tiap moment berharga. Memanfaatkan kamera digital, memotret mereka asal. Acara telah usai. Ku berjalan ke luar, masih dengan siap-siaga memotret setiap detik kejadian. Tanpa sengaja, Rendy berada di depanku. Wajahnya tampak lucu terpotret. Aku tak bisa menahan tawa, melihat wajahnya yang terlihat sangat jelek.

“Hai, Sory!” Kataku
 “Hai!” Ia tampak canggung. Ia hanya menatapku dan tersenyum lebar. Ku memerhatikan perasaanku. Perasaan berdebar itu tak ada. Sepertinya ku sudah melupakan dirinya. Aku hanya bersikap biasa tak se-nervous dulu. Ku menatap tajam matanya hingga membuatnya keringat dingin. Seluruh teman-teman seangkatan kami sudah mulai berpulangan, hingga tinggal kami berdua beserta beberapa guru yang berada di dalam gedung. Cukup lama kami saling berpandangan tanpa berbicara. ”Ehmm, lagi ngak sibuk?” Tanyanya. Aku binggung menjawabnya. Apa maksudnya?
 “Ngak!”
 “Ngak pulang?”
 “Oh, lagi tunggu jemputan!” Jawabku. Mendengar itu ia mengangguk.
 “Boleh bicara sebentar?” Tanyanya
 “Boleh, bukannya kita dari tadi bicara?” Leluconku, membuatnya tertawa. Ia begitu belat-belit berbicara.
 “Ok baiklah” Ucapnya lalu mengambil napas panjang. Cuaca tampak kurang bersahabat. Langit menjadi mendung, angin tampak begitu kencang, berputar-putar seperti mengelilingi kami. Ku menatap ke awan memerhatikan. Ia hanya tertunduk dan berkata, “Aku menyukaimu Ris! Mau jadi pacarku?”

Ku menatap wajahnya , “Ha!” Suaraku keluar tampak begitu terkejut. Ku terdiam, tak ada sedikitpun pikiranku mengarah kesitu.
 “Aku sudah lama mengagumimu, aku sering memerhatikanmu. Apakah kau mau?” Katanya lagi membuatku semakin terdiam. Ku menarik napasku, kami sepertinya bergantian menarik napas. Aku perlu ketenangan dalam menjawab. Sudah terlambat.


“Maaf Ren, aku sudah punya pacar. Lebih baik kita jadi teman saja!”
 Kataku dengan halusnya. Ia diam, ia terkejut. Sepertinya ia tidak menerima itu. Dengan besar hati ia menjawab, “Maaf, aku tidak tahu!”. Wajahnya tampak begitu kecewa. Ia tak berani menatapku.
 “Ris, ayo” Kata Putra yang ternyata telah datang menjemputku. Angin bertambah kencang berhembus.
 “Itu dia pacarku!” Kataku menunjuknya
 “Sory ya Ren!” Kataku, lalu berlari menuju ke arah mobilnya yang berada di belakangku. Ku hanya melambaikan tangan padanya. Dalam hitungan beberapa detik saat ku masuk ke dalam mobil, hujan deras langsung mengguyur disertai selingan kilat dan dentuman petir yang hebat. Ku melihatnya dari kaca spion. Ia hanya memandang kepergianku. Ia masih berdiri tak bergerak tuk menghindari hujan, hingga bajunya seluruhnya basah ditelan hujan.

“Maaf Ren, kau terlambat. Meski aku pernah menyukaimu, tapi rasa itu telah hilang. Aku memilih Putra saat ini. Aku tak dapat membantah atau mencari dalih bahwa ia tak pantas bagiku sehingga ku memilihmu. Ia baik dan begitu menghormatiku. Ia menyayangiku Ren!” Renungku dalam hati, menatapnya di balik spion mobil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I LOVE YOU, GOODBYE...

Aku memandangi foto tersebut beberapa  saat. “Hanna, i’ll keep you on my mind... we will meet again someday. Goodbye...” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada. “Hanna!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu.                              {{{ “aku tidak tau mengenai Hanna semenjak kepindahannya. Lagipula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Hanna 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Hanna ke Balikpapan ?” Celotehan rina membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Balikpapan juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Hanna. “Rina, aku datang kep...

Cinta 100 hari

Aku dan Rivan telah bersahabat sejak kami sama-sama duduk dibangku kelas dua sekolah dasar . Semua masa telah kami lalui bersama . Masa kecil , masa-masa menghadapi Ujian Nasional SD , masa-masa cinta diSMP , masa kelulusan sewaktu SMP , sampai kami bisa merasakan bagaimana menjadi seorang siswa SMA .Masa-masa bahagia karna setiap waktu kami lalui bersama , juga masa-masa sedih saat kami harus menolak cinta . Menolak Cinta ? Iya menolak cinta , karna setiap cinta yang datang kepada kami , selalu berusaha untuk menghancurkan persahabatan kami berdua . Cinta yang datang kepada kami selalu bilang “ Jauhilan Rivan , Nay “ kalau tidak “ Jauhi Naya , sekarang kamu millikku , Van !” . Dari kata-kata itu  , aku dan Rivan selalu memilih untuk tidak menjalani hubungan pacaran yang bisa merusak persahabatan yang telah terjalin cukup lama diantara kami . Suatu sore aku dan Rivan duduk ditaman sekolah setelah selesai menjalani kegiatan masing-masing ”Van . sampai usi...

DIA BINTANGKU

Oleh : yang terlupakan            Diantara banyak bintang bertaburan dilangit malam yang sunyi, gue nemuin satu bintang yang paling terang dari yang bersinar. Dia indah, gue seneng mandanginnya, gue seneng liat sinarnya, indahnya bikin gue lupa tentang masalah gue. Mungkin inilah keindahan Allah SWT yang memberikan gue mata yang sempurna agar melihat suatu hal yang indah pula. Walaupun bintang itu milik Allah tapi gue bisa nikmatinnya, bikin gue tenang. Kalian tau ga? Bintang itu indah saat ia bersinar, andai setiap malam gue bisa liat bintang itu bersinar dan menerangi kelamnya malam. Ga semua bintang bisa seindah itu, kadang kalo malem dateng dan gue menengadah buat cari bintang yang bersinar rasanya sulit, dia ga selalu hadir disetiap malam, ga selalu ada buat nerangin malem, dan ini yang ga gue pengen. Gue pengen bintang bisa hadir setiap saat, dan disaat gue butuh dia Errrr— banyak banget masalah yang gue hadepin belakang...