Oleh : yang terlupakan ‘Hujan. Sepertinya tak ada waktu yang tepat untukmu datang. Saat ini apakah engkau menertawaiku? Atau malah mendukungku? Dia ada disebelahku. Hatiku canggung, mulutku tak bisa bicara. Bantulah aku. Kau membuat kami semakin dekat. Apa yang harusnya aku lakukan?’ Aku diam, duduk di lantai memeluk kakiku. Memandang keluar, yang terhalang oleh kaca tebal ditemani dengan rintikan hujan yang semakin lama semakin tajam. Hari menjadi terasa dingin di sore hari. Tampak embun-embun kecil mengelilingi ku di kaca. Ku mengingatnya. Ku mengingat kejadian semalam. Wajahnya begitu lugu. Di hari libur seperti ini, ku tak bisa melihat wajahnya. Mengapa aku tak berbicara semalam kepadanya? Aku dibuatnya ragu-ragu. Aku mati kutu dibuat oleh suasana semalam. Andaikata ia tahu bahwa aku merasa getaran felling, apakah ia juga memiliki perasaan yang sama? Oh..baiklah, ini s...